Sebuah Perjuangan 

​Tulisan ini di dedikasikan untuk saya sendiri. Kenapa dituliskan? supaya ada bahan saja buat menulis pekan ini. semoga ada manfaatnya juga bagi yang membaca

Kalau ada perjuangan yang begitu susah payah saat ini, bagi saya adalah perjuangan untuk konsisten tepat waktu dalam memenuhi kewajiban, janji, maupun hal-hal lainnya sesederhana apapun yang membutuhkan ketepatan waktu. Jika rentang kewajiban adalah hitungan jam, maka keterlambatan dalam menit. Kalau hitungan hari, akan berlebih dalam jam. Jika pekan, akan hitungan hari keterlambatan itu muncul. Makin lama rentangnya, tingkat keterlambatan itu semakin besar juga. (mungkin itu juga yang bikin sekarang masih.. ah sudahlah)

Bermunculanlah ranting-ranting yang menyandung ketika hendak menghadiri pertemuan yang sudah ditentukan waktunya. Akan hadir random trouble saat deadline menjelang. Kaidah ini mungkin bekerja: Jika kamu belum lulus ujian, maka ujian itu akan kamu ulangi sampai lulus. Ujian-ujian itu berupa urusan yang muncul menjelang tenggat, yang sebenarnya bisa dilakukan jauh sebelumnya. Kalau gagal dan terlambat, berikutnya akan diuji dengan hal yang serupa. Lalu setelah dievaluasi sudah berapa kewajiban yang tercatat tepat waktu, prosentasenya sangat lah kecil. Kesal sendiri.

Bisakah hadir tepat waktu di kantor selama satu tahun tanpa terlambat satu hari pun? Bisakah menghadiri janji setiap saat tanpa ngaret barang semenit? Bisakan mengumpulkan tugas sebelum masa berlakunya habis? Itu masih misteri alam.

Sebenarnya bukan tidak sadar, saya menyadarinya sejak laamaa. Bahwa ketepatan waktu ternyata juga merupakan kebiasaan. Buah dari tidak abai memenej waktu untuk hal sekecil apapun dan menyegerakan penyelesaian kewajiban secara terus menerus. Berapapun lama rentang waktu yang diberikan, misalkan pertemuan untuk pekan depan, deadline untuk bulan depan, dsb, akan selalu berakhir terlambat. Karena memang kebiasannya adalah terlambat. Begitu pula sebaliknya.

Seperti bola salju yang menuruni bukit, semakin besar dan tidak terbendung. Kalau kebiasaan datang terlambat ke kantor terus terjadi, efek tidak langsungnya mungkin keterlambatan proyek berharga milyaran. Dan terlambatnya negara ini maju, mungkin juga berefek dari keterlambatan-keterlambatan kecil dari warganya dalam memenuhi kewajiban. Jika ingin melihat Indonesia, lihatlah diri sendiri. Begitu kata dosen saya.

Besok hari Senin, awal pekan untuk kembali produktif dalam bekerja. Setelah 2 hari sebelumnya libur. Godaan bermunculan setelah bangun dari tidur.

Ya Allah, hamba pengen tepat waktu sedari solat subuh *_*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s