Broken Windows 


Broken Windows atau jendela pecah merupakan salah satu teori dalam kriminologi yang menjelaskan mengapa kriminalitas menjadi epidemi dalam suatu kawasan. Pertama kali dicetuskan oleh 2 kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling untuk mengurai tingginya angka kriminalitas di kota New York pada tahun 1980-an.

Teori tersebut berpendapat bahwa kriminalitas merupakan dampak yang tak terelakkan dari sebuah ketidakteraturan. Jika terdapat jendela yang pecah pada suatu rumah sedangkan pemiliknya tidak segera memperbaikinya, orang-orang yang lewat akan menyangka bahwa rumah tersebut dibiarkan oleh pemiliknya. Sehingga akan timbul kerusakan-kerusakan berikutnya yang disebabkan oleh orang-orang yang menganggapnya demikian.

Pernah saya baca dalam suatu artikel yang saat ini lupa itu dimana. Ada sebuah social experiment dengan menggunakan 2 buah mobil yang sama namun diletakkan di pinggir jalan di dua kota yang berbeda. Salah satu dijaga agar tetap bersih dan utuh sedangkan yang satu lagi sengaja di lepas beberapa bagiannya, seperti plat nomor, kap mobil, dan disertai pukulan pada body mobil sehingga penyok. Pengamatan dilakukan dalam kurun waktu tertentu dan menghasilkan suatu pemandangan yang berbeda. Mobil pertama tetap utuh seperti pertama kali di parkirkan sedangkan mobil ke dua hancur akibat ulah orang-orang yang lewat. Mesinnya ada yang di curi, seluruh kaca pecah dan kerusakan parah pada body mobil. 

Hasil eksperiment tersebut menguatkan pendapat dari teori broken window. Tentang ketidakteraturan yang menimbulkan konteks bagi masyarakat untuk melakukan ketidakteraturan yang lebih besar. 

Pada tahun 1980-an, New York city mengenyam sejarah kelam dimana 2000 kasus pembunuhan dan 600.000 kasus kekerasan tercatat di dalam dokumen kepolisian setiap tahunnya. Namun, angka tersebut turun secara dramatis hingga lebih dari separuhnya di tahun 1990-an. 

Strategi kepolisian dan pengelola public sector konon menangkal wabah kriminalitas itu dengan mengacu pada teori ini. Alih-alih memfokuskan pada kasus-kasus besar seperti pembunuhan, pengedaran obat bius, atau pemerkosaan, mereka lebih memilih untuk memfokuskan ketidakteraturan yang kecil-kecil namun dianggap menjadi biang segalanya. 

Mereka memfokuskan pada memerangi tindakan vandalisme berupa coretan gravity pada dinding lorong dan gerbong kereta api bawah tanah. Dengan cara menjadikannya selalu bersih dari coretan. Hal ini terus dilakukan dalam kurun 6 tahun. 

Ada lagi penindakan pada kenakalan remaja yang tidak membayar tiket kereta yang seharga 1.2$. Yang selama ini dianggap hal remeh dan tidak pernah ditindak. Wal hasil, setelah ditelusuri dari penangkapan pelaku “tidak bayar tiket” ini ternyata kepolisian menangkapi para pelaku kejahatan yang besar : pelaku pembunuhan, pengedar narkoba, dll. 

Sejak saat itu kepolisian dan pemerintah setempat terus mengerahkan tenaga pada hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa. Secara tegas menindak kasus-kasus pembuangan sampah sembarangan, kencing sembarangan, corat-coret fasilitas umum, dan hal-hal indisipliner lainnya. 

*

Jika kita bandingkan antara mall dan pasar tradisional kita akan mendapatkan gambaran kondisi yang mirip. Tingkat kebersihan yang begitu berbeda. Kita enggan membuang sampah sembarangan di kios-kios karena lingkungan yang bersih dan akan tampak bodoh jika melakukannya. Serta jelas akan mendapat teguran. Kalau di pasar tradisional, pesannya akan sama “buanglah sampah pada tempatnya”. Tapi pembenaran kita akan berkata “dimana-mana adalah tempat sampah” 

Wallahu a’lam. . 

Sekelumit pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kita perlu lebih perhatian terhadap ketidakteraturan yang ada di sekitar kita. Atau bahkan yang kita lakukan sendiri. Lalu bersegera untuk menanganinya. 

Mungkin solusi banjir bukan pada investasi triliunan penambahan kanal tapi penindakan pada pembuangan sampah sembarangan. Dan pengalokasian dana utk peningkatan layanan kebersihan dan tata kota.

Mungkin juga pengentasan wabah korupsi harus dimulai dari penindakan secara tegas hal-hal yang mungkin sudah lumrah, mencontek saat ujian. 

Sepertinya memang begitu, ada keretakan kecil yang dibiarkan pada sebidang kaca yang kuat. Yang membuatnya dapat pecah meski cuma dengan tekanan jarum kecil. 

*

Sumber : Tipping Point, Malcolm Gladwell 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s