Mudah saja 

Anekdot yang turun temurun dicandai oleh para aktivis senior kampus ITB. Yang berkali saya dengar di berbagai momen kaderisasi atau seminar. 

Siklus hidup kami seperti ini. Sekolah di SMA favorit. Lulus ujian masuk ITB. Belajar tekun dapet IPK bagus. Lulus ITB. Kerja di perusahaan bonafide. Digaji besar. Menikah. Punya anak. Anaknya sekolah di SMA favorit. Masuk ITB. Dan begitu seterusnya sampe kiamat.

Memang selalu lebih mudah jika hanya memikirkan diri sendiri. Tapi hal terpenting menjadi seorang terdidik adalah juga memberikan kesempatan bagi orang lain. Ada misi yang tidak boleh terabaikan untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat dan kemajuan bagi bangsa. 

Saya merasakan kenyamanan itu. Allah karuniakan kemudahan dalam mendapatkan tempat bekerja dan kecukupan rizki. Perencanaan keuangan lancar sekali. Untuk tahun ini, tahun depan, dan seterusnya. Sejahtera aman sentosa. 

Tapi selalu saja terganggu ketika waktu kepulangan ke kampung halaman tiba. Ketika ada keluarga di kampung yang sedang memiliki tantangan finansial. Ketika ada tetangga yang mengiba karena tidak tahu harus bekerja apa. Berharap kacung bagus ini bisa membantu sesuatu. Dan lainnya. Maka, jika saya memasukkan semuanya itu ke daftar rencana keuangan tadi, seperti rontok semua angan yang sebelumnya kokoh seyakin-yakinnya. Tidak akan cukup. 

Selalu saja begitu. 

Sehingga terus teringatkan untuk berpikir lebih besar lagi. Mencari-cari celah untuk berkontribusi. Mengubah prioritas juga orientasi. Agar waktu bekerja seyogyanya juga menjadi waktu belajar. Mendalami lagi ilmu dan pengaplikasiannya. Berinvestasi jangka panjang, untuk menolong orang sebanyak mungkin di masa depan. 

Syaikh Sayyid Quthub menekankan, bahwa selamanya orang akan kerdil saat hanya memikirkan dirinya saja, dan baru akan besar saat hidup untuk orang lain. Sedangkan kutipan Soe Hok Gie yang selalu terpublikasi dimana-mana menyatakan, bahwa bidang seorang sarjana adalah menciptakan yang baru. 

Pengingat bagi saya yang saat ini masih newbie di ranah kehidupan bermasyarakat. Agar jangan sampai menjadi kacang yang lupa kulitnya. Supaya tidak melupakan teman-teman masa kecilnya yang sekarang pilu mencari penghidupan.

Persoalan menjadi jauh lebih rumit sekarang. Kalau hanya untuk diri sendiri, semuanya mudah saja. 

Advertisements

2 thoughts on “Mudah saja 

  1. Nurlatifah says:

    Kmrn ktmu kenalan buibu yg lg ambil S3 di UI, dan Hipotesa ITB sama ITB terbukti 😂 *ntar kalo ktmu anak ITB lain, tanya lagi ah..wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s