Review : Mengembangkan Ruang Baca (bag. 1) 


​Room to Read. Sebuah organisasi filantropi yang secara fokus bergerak untuk membebaskan anak-anak dari buta huruf dan keterbelakangan pendidikan. Terlahir dari rasa iba penggagasnya, John Wood, pada suatu perjalanan liburan di Himalaya, Nepal, di tahun 1998 (tahun pendirian Room to Read).  Liburan itu menjadi titik balik karirnya dari seorang direktur pada perusahaan Microsoft yang terkenal itu menjadi seorang relawan yang memiliki ambisi besar untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. John tersengat oleh pemandangan yang dilihatnya kala itu: sebuah masyarakat yang tertinggal dengan sebuah sekolah tanpa ada kertas dan alat tulis, terlebih lagi tidak memiliki akses terhadap buku.

Di dalam buku “Mengembangkan Ruang Baca”, John melakukan interpolasi kondisi terhadap apa yang disaksikannya itu kepada kondisi dunia saat ini. Menurutnya ada lebih dari 800 juta anak-anak yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan buku yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Dan dua pertiganya adalah perempuan. Keadaan yang begitu mengerikan. Keterbelakangan pendidikan menyebabkan kecilnya harapan sebuah masyarakat memiliki kehidupan yang layak. Jikalau masyarakat lebih berpendidikan, mereka memiliki lebih banyak pilihan untuk mengubah hidupnya agar lebih baik. John berkesimpulan bahwa dunia akan bisa berubah, dimulai dari anak-anak yang berpendidikan.

Buku ini menceritakan perjalanan John Wood dan timnya dalam menjalankan organisasi Room to Read menghadirkan sekolah dan perpustakaan di negara-negara berkembang dengan resource yang begitu terbatas. Buku ini John tulis setelah ia berhasil mendirikan 10.000 perpustakaan bersama Room to Read di seluruh dunia dan jumlah itu akan terus bertambah. John menceritakan prinsip-prinsipnya dalam menjalankan organisasi tersebut; tentang pengalamannya dalam menghimpun donasi dari para investor dari berbagai negara; serta usaha kerasnya, hambatan, dan peluang yang ia dapatkan dalam membangun cabang di kawasan masyarakat berpendidikan tertinggal. Serta yang menarik bagi saya adalah visi serta obsesi dirinya yang sempat tersampaikan dalam wawancara sebuah media “Tujuan saya, agar semua anak-anak di mana pun memiliki akses terhadap literasi dan buku-buku dalam bahasa ibu mereka sejak dini”. Semua anak-anak!

Buku ini memberikan wawasan baru dalam dunia filantropi (akan diulas pada review bag.2). Latar belakang John yang merupakan akademisi dan bisnis membuat Room to Read bergerak tidak seperti organisasi amal pada umumnya, tapi lebih seperti perusahan profesional dengan segenap perangkatnya. Sangat terperinci dan terukur dengan indikator keberhasilan yang berbeda. Yakni bukan pada seberapa banyak profit yang didapatkan, tapi seberapa banyak anak-anak yang terjangkau dan memperoleh pendidikan di usia mereka yang belia. Menjadikan Room to Read begitu agresif dan ekspansif dalam menghimpun donasi dan membangun sekolah-perpustakaan di berbagai negara.

Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi teman-teman yang menjalankan aktivitas filantropi. Ada banyak pelajaran yang bisa didapatkan untuk membantu organisasi amal agar berkembang dan memberikan lebih banyak lagi manfaat bagi lingkungan. Karena semakin banyak kelompok yang berjuang untuk memperbaiki keadaan saat ini, semakin cepat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Advertisements

4 thoughts on “Review : Mengembangkan Ruang Baca (bag. 1) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s