Akan Kuulangi Lagi

Sebuah pendakian perdana pada ancala. Satu dari ketakhinggaan karya Al Khaliq yang menjulang, Gunung Gede.
Satu bulan sebelum pendakian, sebuah wacana terlempar pada salah satu grup. Ada pilihan tanggal sebagai polling untuk mencari keluangan waktu yang memungkinkan. Berawal dari keisengan mengisi daftar nama agar tidak sepi peminat. 8-9 April 2017, kolom yang saya pilih, terpilih oleh 7 orang dan didaulat sebagai suara mayoritas. Singkat cerita, berangkatlah kami dengan berenam orang dari Jakarta dan Bandung menuju titik pertemuan, Cibodas-Bogor.

*

Adalah persiapan, benar tidak boleh diremehkan. Terutama untuk sesuatu yang tidak dapat tuntas dalam sehari dua hari. Pada pendakian ini saya mendapat “hukuman” atas kelalaian untuk berolahraga secara teratur. Irama berjalan sudah kacau dimulai dari setengah jam pertama. Hingga sampai pada puncak, tidak terhitung berapa kali harus berhenti karena kaki yang gemetar atau jantung yang berdetak terlalu kencang. Periode berjalan dan beristirahat menjadi begitu singkat, mungkin tidak lebih dari 15 menit.

Gagal mempersiapkan sama dengan mempersiapkan kegagalan. Persiapan selalu memilik andil begitu besar pada keberhasilan suatu eksekusi. Bisa jadi kondisi lapangan akan begitu berbeda. Bisa jadi improvisasi takkan terelakkan. Rintangan adalah keniscayaan dalam suatu perjalanan. Adapun kematangan dalam persiapkan akan membawa pada ketenangan dalam menghadapi situasi diluar perhitungan. Pendakian perdana ini mengajarkan secara jelas bahwa ada persiapan-persiapan yang tidak dapat secara instan dilakukan. Sebaliknya, butuh waktu dan konsistensi. Akan selalu ada imbas dalam persiapan yang terburu. Akan selalu ada buah manis dari matangnya persiapan.

*

Tak surut. Saya tergoda untuk menguji diri sendiri. Seberapa batas yang saya miliki. Dan seberapa kuat untuk melampauinya.

Imbas dari kurangnya latihan fisik adalah lemahnya otot dan kakunya sendi. Bawaan semakin berat terasa. Bergetar kaki, terengah nafas, dan berdegup jantung tidak beraturan. Pada kondisi puncaknya mengiring pikiran pada arah untuk berhenti. Membuat tidak sabar untuk terus bertanya berapa lama lagi perjalanan akan sampai pada ujungnya. Dan ada begitu banyak hal yang entah kenapa bermunculan memerangi niat untuk terus melanjutkan perjalanan.

Pendakian gunung selalu menjadi simbol dan analogi untuk perjuangan. Bahwa Ia tidak mudah. Bahwa Ia akan berat dan terjal. Ketidaknyamanan adalah sahabat yang usil menggoda, membercandai untuk berhenti dan pulang. 

Pendakian ini pun mengajarkan saya bahwa pikiran adalah raja bagi raga juga hati. Menjaganya terus positif ternyata betul ampuh. Badan boleh saja mengeluh tidak sanggup lagi. Hati boleh saja merengek malas untuk berlanjut. Tapi pikiran adalah raja. Ia bisa menguatkan pasukannya untuk terus menerjang atau mengiyakan lalu berhenti. 

*

Bersyukur saya dibersamai oleh teman-teman yang tidak hanya lebih berpengalaman karena sudah beberapa kali melakukan pendakian tapi juga begitu pengertian untuk tidak meninggalkan. Berkali harus memilih berhenti daripada langsung cepat mencapai puncak. Membagi perbekalan hingga meringankan bawaan yang harus saya pikul. Rasanya sudah begitu banyak saya menyusahkan, dan mereka hanya terus menghibur dan menyemangati. Tiada henti sampai ditapaki puncak dan kembali.

Berada posisi terlemah memang tidak mengenakkan. Tidak mampu mengejar kesanggupan yang lain untuk berjalan lebih cepat. Pada saat itu, pengertian teman perjalanan menjadi begitu menenangkan sekaligus menguatkan. Tidak boleh ada yang tertinggal. Pelajaran berharga bagi keegoisan yang seringkali tidak memikirkan sesama. Menilai orang lain seukurannya. 

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari perjalanan yang dilakukan bersama-sama. Dari awal hingga akhir. Jika pada posisi yang lemah, berusaha dan terus berupaya agar tidak jauh tertinggal. Jika pada posisi yang kuat, tidak lantas berlari lalu meninggalkan.

*

Bersyukur pada Allah yang memberikan kesempatan untuk berjalan menapaki bumi-Nya. Dipertemukan dengan ciptaan-Nya yang agung nan indah tak bercela. Terjal batu berundak. Jernih air mengalir. Segar udara dan semilir angin. Pesona pagi puncak Gunung Gede. Hamparan menawan padang Surya Kencana. 

Terbisik satu keinginan, untuk kembali mengambil hikmah dan pelajaran…

Advertisements

3 thoughts on “Akan Kuulangi Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s