Menjadi GYPSY yang baik

Dalam sebuah artikel yang dimuat pada laman waitbutwhy.com, sangat ditohok generasi tahun 90an.Tentang prilaku umum yang bisa jadi sangat generalisasi tapi tetap mengena. Kita para generasi 90an disebut dengan istilah GYPSY. Diungkap dengan data-data statistik dengan kesimpulan bahwa kita kurang bahagia karena beberapa alasan. Yang utama adalah anggapan GYPSY bahwa mereka adalah spesial.

Dikatakan bahwa GYPSY terjebak pada delusi jalan hidupnya yang akan mudah. Dibandingkan generasi orang tuanya atau para babyboomer yang sedari awal menyadari bahwa keberhasilan dalam karir perlu proses panjang dan tidak mudah. Ekspektasi GYPSY sangat tinggi terhadap kehidupannya sehingga timbul gap yang sangat lebar dengan realita. Gap itu menjadi kekecewaan. GYPSY susah untuk bahagia hakiki. 

Cukup tersentil dan tersindir saat merefleksikan dengan hidup saya sendiri. Media yang sangat santer dan tak henti mengisi hidup sehari-hari memang sangat mempengaruhi pola pikir dan cara pandang terhadap diri sendiri. Melihat berbagai kesuksesan orang lain membuat diri optimis dapat mendapatkan kesuksesan serupa atau bahkan lebih baik. Kalau mereka bisa kita juga bisa. Itu jadi semboyan bersama, kan? 

Melihat orang lain secara terus menerus lambat laun membuat kita membandingkan diri dengan mereka. Berpikir akan bisa seperti mereka. Pada akhirnya kita lupa terhadap pekerjaan dan kehidupan sendiri yang seharusnya jadi fokus utama. Lupa bersyukur. Bersedih. Tidak bahagia. 

Hal baik menjadi GYPSY adalah optimisme dan ambisi akan masa depannya. Hanya. Perlu kesadaran penuh tidak ada proses instan dalam mengejar karir. Kesabaran dalam ketekunan harus terhujam pada hati dan pikiran. 

Sangat mudah sih ini saya nulis. Padahal tiap hari masih saja terburu-buru untuk mencapai ini dan itu. Over ambisi. Terjungkal karena tersandung urusan terdekar karena terlalu fokus dengan masa depan yang jauh. 

Menjadi GYPSY yang baik. Menurut saya berarti menyeimbangkan mimpi, rencana, usaha, dan doa. Saya rasa tidak ada masalah dan malah adalah keharusan untuk memiliki cita-cita serta optimis akan mampu mendapatkannya. Bukannya diharuskan bagi kita untuk memimpikan surga dan bertemu sang Rab. Pencapaian tertinggi tak ada bandingannya. Apalagi soal mimpi di dunia kan? 

Doa, ikhtiar, dan tawakal. Bersegera bergerak dari satu urusan ke urusan yang lain. Syukur, sabar, tsabat, dan istiqomah. Berencana dengan sebaik-baiknya. Terorganisasi. Dalam waktu yang lama. Wahai diri. Jangan terburu-buru. Jalani setapak demi setapak. Gak apa sakit sakit dulu. Insya Allah bahagia pada saatnya. 

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi GYPSY yang baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s