Mereka

​Saya selalu menjadi pengagum para pemilik jiwa yang senang berderma. Pikirannya tidak sebatas pada gagasan hanya untuk dirinya saja. Matanya terbuka melihat semesta. Hatinya senantiasa hangat menerima keberadaan sesama manusia. Peka terhadap derita. Kemudian kaki tangannya ringan bersegera menolong ketidakberdayaan. Sambil tersenyum bahagia. Tiada sesal. Seolah tidak mengenal apa itu untung dan rugi.

Mereka adalah relawan. Apa yang saya saksikan ini adalah sekelumit dari himpunan besar rasa peduli. 

Pagi sekali di hari Minggu. Salah satu grup WhatsApp riuh dengan sejumlah percakapan koordinasi dan reminder agar segera beranjak. Anggota grup dari berbagai penjuru akan berkumpul. Beradu cepat mengamankan posisi memburu keramaian. Hendak digelar oleh mereka pasar rakyat, yang dengan kekinian mereka sebut Flea Market. 

Konsep sederhana menghimpun tiga kebutuhan. Kebutuhan pertama berasal dari kalangan masyarakat ekonomi atas. Mereka memiliki kemampuan untuk meremajakan isi lemarinya secara berkala. Baju yang tidak lulus seleksi perlu berpindah lokasi. Kebutuhan kedua datang dari kelas masyarakat berkecukupan. Mereka yang mengandalkan obralan harga miring dalam hal sandang. Kebutuhan terakhir datang dari mereka yang memiliki segudang misi manusiawi namun engap soal nominal rupiah. Pertanyaan “bagaimana caranya?” menjadi pemicu berputarnya akal bergeraknya dengkul. Mereka bertindak.

Disiarkannya kabar kepada pemilik kebutuhan pertama. Lewat media mulut atau teknologi dunia maya boleh saja. Setiap hari sepekan lamanya. Alhasil, segunung baju berlabel terkumpul. Setelahnya, dijual kepada pemilik kebutuhan kedua dengan harga seukuran kantong mereka. Meski begitu, menawar harga adalah khas para ibu. Yang baru puas setelah berhasil menurunkan harga lima ribu menjadi lebih murah lagi. Para ibu mengerti bahwa para penjual masih hijau, muda dan mudah. Santai saja, karena tujuan asalnya memang melayani.

Baju bekas tersalurkan dengan lebih berarti. Masyarakat dapat membeli baju murah dengan kualitas atas. Relawan muda menghimpun rupiah untuk kegiatan mereka selanjutnya. Bisa membayangkan siapa yang berbahagia, kan?

Begitulah para relawan. Menghubungkan kelebihan dan kekurangan yang terpisah jurang ketidakpedulian. Bergerak lincah mencari berbagai kemungkin dan harus mereka dapatkan. Bahan bakarnya adalah keikhlasan. Mereka tidak dibayar dengan apapun. Bukan karena tak bernilai, tapi karena mereka tak ternilai.

Perjuangan mereka menjadi penyadaran bagi seluruh manusia. Untuk senantiasa berupaya menghadirkan ratanya kesempatan, tidak melihat asas strata sosial. Adanya mereka menjadi bukti bahwa masih ada rasa peduli terhadap sesama. Cermin bagi jiwa kerdil yang tamak dan tak usai memikirkan diri sendiri. Agar segera melirik apakah ada yang membutuhkan pertolongan.

Sekali lagi saya pengagum mereka. Ini penegasan.

Flea market. Lokasi Keraton Kasepuhan 

Advertisements

4 thoughts on “Mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s