Sebatas Keyakinan

Akhir pekan waktunya rehat dan pulang. Angkot sepi penumpang menjadi kendaraan andalan yang mengantarkan saya ke titik pertemuan bus antar kota. Meski demikian, tidak ada ngetem terlalu lama di depan perumahan yang saya huni. Saya menerka mungkin karena di siang hari waktu ishoma dan tidur. Selain itu, jumlah angkot yang cukup banyak menjadikan waktu tunggu yang sangat sebentar. Jika tertinggal satu angkot, selang satu surat qulhu angkot berikutnya akan datang lagi. Sehingga jika menunggu yang tidak pasti, penumpung yang di depan akan tersambar oleh angkot saingan. Ini tidak menguntungkan.

Musim kemarau sepertinya mulai datang. Hujan pagi dan siang hari sudah tiada. Suhu ruang menjadi cukup untuk membuat pori mengeluarkan bulir keringat tanpa aktifitas berat. Saya jadi tidak perlu khawatir untuk pulang agak siang karena hujan.Faktor harus berangkat pagi sudah tereliminasi. Jadi lebih fleksibel gak buru-buru. Pasalnya, Bus Luragung akan ada setiap satu jam. Dengan memperkirakan durasi angkot sampai ke gerbang tol Cikopo, kita bisa langsung naik bus tanpa harus menunggu lama.

Di masa awal kepulangan dari purwakarta menuju Cirebon sangat mendebarkan. Perhitungan waktu diperinci. Rencana keuangan harus siap untuk menghadapi segala kemungkinan tawar menawar harga menumpang. Lengkap hingga ke pecahan rupiah recehan. Agar tidak kena fee yang mahal karena pasrah menerima kembalian. Seiring seringnya menggunakan armada bus Cipali, semuanya menjadi terasa lebih fixed termasuk soal bayar ongkos dan waktu keberangkatan. Sayangnya tidak cukup untuk menghilangkan kecemasan karena kurangnya pilihan memastikan keselamatan.

Perjalanan pulang yang biasa saya lalui bisa jadi adalah serangkaian peristiwa pelanggaran lalu lintas dan pertaruhan nyawa. Tidak ada trayek bus Cikampek-Cirebon dari titik ke titik. Trayek tersebut hanyalah bagian dari rute panjang Jakarta menuju Kuningan atau Jawa. Satu-satunya cara untuk dapat menikmati bus yang melalui jalan bebas hambatan Cipali adalah menuruni jalan setapak dan menunggu di bahu jalan tol. Itu adalah pilihan paling ideal jika dibandingkan dengan pilihan menggunakan jalur pantura yang penuh lobang. Yang labih jauh. Yang lebih lama. Yang labih mahal. Yang lebih tidak aman.

Pilihan ideal tapi melanggar aturan. Hukum haram menaik-turunkan penumpang sepanjang jalan bebas hambatan. Kecepatan pacu kendaraan yang diharuskan paling lambat 60 km/jam menjadikan jalan tol sebagai track kebut yang legal. Adanya gangguan yang tiba-tiba meski sedikit akan berakibat sampainya  manusia ke surga atau neraka. Angkot yang dijalanan kota saja sering disemprot klakson mobil belakang dan dibeberapa kesempatan yang saya temui sampai terjadi rem mendadak padahal kecepatan rendah. Bagaimana jika kagok itu terjadi pada kelajuan tinggi? Meski tidak membaca undang-undangnya secara rinci, tapi bisa tertangkap urgensi larangan itu. 

Ironi memang jika memahami sesuatu tapi melakukan hal yang sebaliknya. Bukan tidak diketahui polantas. Sejumlah rambu S coret merah mereka pasang di setiap “halte” sepanjang tol lengkap disusul dengan papan selebar meja karambol dewasa bertuliskan undang-undang. Kadang-kadang ada juga patroli yang menyisir panjangnya jalan toll. Picingan mata mencari para pelanggar jalan selamat.

Kecemasan ditilang di perjalanan tidak lebih hebat dari kecemasan kecelakaan. Perjalanan yang menjadi biasa ini juga pernah mengalami sejumlah peristiwa yang sontak menigkatkan iman dan dzikrul maut. Selain pemandangan hijau hamparan sawah dan pohon karet, ada juga peragaan truk yang sedang tidur dengan perut menengadah ke langit; mobil penyok yang tertatih dituntun derek; atau pembatas jalan yang bentuknya tidak beraturan bukan karena pemuaian akibat panas siang. Belum lagi yang menimpa balok beroda berisi puluhan nyawa yang saya tumpangi. Mesin berasap, letusan ban, dan gurat kaca pecah terbentur adalah sejumlah kisah perjalanan.

Kehilangan nyawa adalah kerugian terbesar. Tidak dapat ditebus karena tak ternilai. Belum lama ini di purwakarta terjadi kecelakaan bus yang menewaskan 5 pengguna jalan karena rem yang blong. Apa bus blong bisa dimaklumi terjadi pada bus yang mengangkut banyak orang? 

Perhatian terhadap keselamatannya adalah hal utama. Penyelenggara transportasi, pengatur lalu lintas, dan pengguna seharusnya tidak abai akan standar keselamatan.

Pemahaman konsep itu secara tidak manusiawi harus dibenturkan dengan realita yang terjadi. Pertimbangan ekonomis lebih dominan untuk menentukan armada apa yang hendak ditunggangi. Mau apa dikata, gaji yang tak seberapa jika harus ludes untuk ongkos kan lucu. 

Selama belum merasakan langsung hantaman dijalan kita anggap saja itu aman dilakukan. Ramainya penumpang dan siklus yang telah berjalan puluhan tahun cukup dijadikan justifikasi bahwa itu standar. Tapi kehilangan yang paling berharga kan cukup sekali.

Kehadiran sistem transportasi yang ideal adalah layak untuk terus diupayakan. Menekan peluang celaka hingga nol memang tidak mungkin, tetapi berikhtiar menghilangkan penyebab dengan standar keselamatan yang teraplikasi dapat dilakukan. Persoalan serius untuk mengusahakan atau tidak. Karena sampai saat ini, selamat sampai tujuan hanyalah sebatas keyakinan.

Advertisements

6 thoughts on “Sebatas Keyakinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s