Ingin

​Namanya juga manusia. Serapan kata Insaan. Dekat dengan kata nisyan, artinya lupa. Orang bilang manusia adalah tempatnya salah dan tempatnya lupa. Tidak jadi masalah karena memang begitu adanya. Lawan kata lupa adalah ingat. Kalau pernah merasakan lupa, berarti disaat yang sama sedang merasakan ingat. Ada begitu banyak hal yang disimpan dalam kepala kita yang menimpa memori lama dan menjadikan kita lupa. Sangat cerdas jika kita mengantisipasinya dengan hal-hal yang dapat mengingatkan. Kita memerlukan alarm untuk menolak lupa.

Gejala lupa bisa saja terkait dengan jadwal, tempat, dan banyak lainnya, salah satunya adalah konsep diri. Hal yang seabstrak motivasi atau semangat pasti tidak sepraktis jadwal event untuk dilakukan reminder. Butuh sesuatu yang lebih emosional yang dapat menembus hati dan pikiran. Terlebih jika tidak ada siapapun dan sendiri. Ada metode yang ingin saya coba dan coba. Ingin lebih sering dan sering. Metode itu adalah menulis. Seperti yang dilakukan banyak orang hebat karena kegemarannya menulis.

Terinspirasi dari pengalaman Buya Hamka menghadapi interograsi agitatif saat dipenjara oleh pemerintah saat itu dengan tuduhan tanpa alasan. 15 hari hampir tanpa henti. Dipaksa untuk mengakui bahwa ia berkhianat dengan memihak Malaysia. Penuh ancaman dan hal-hal lain yang mengerikan. Beliau menceritakan bahwa pikirannya sempat memilih bunuh diri sebagai jalan terbaik. Ya bunuh diri. Seseorang dengan kapasitas pemikiran dan keimanan sekelas Buya Hamka memikirkan bunuh diri sebagai solusi saat mengalami tekanan hebat. Namun ada satu hal yang membuatnya kembali berpikir jernih, yakni salah satu karya tulisnya yang berjudul Tasawwuf Modern. Beliau membaca ulang karyanya itu. Celetukkannya saat itu “Hamka sedang menasihati dirinya sendiri”. Nasihat-nasihat yang pernah ditulisnya dan dibagikannya untuk orang lain menohok dirinya sendiri, membuatnya sadar untuk tetap sabar. 

Adakalanya memang menjadi sangat benci menelan ludah sendiri. Atau tersenyum sendiri mengingat kejadian membahagiakan yang pernah dirasakan. Ternyata ada celah untuk mengobati perasaan galau. Meminta nasihat dari diri sendiri yang dulu pernah kuat.

Ada banyak ide yang selintas melintas dipikiran dan hilang. Ada banyak nasihat tausiah yang pernah didengar, masuk kuping kanan keluar kuping kiri, hilang. Ada banyak kalimat yang pernah dibaca, sangat menginspirasi penuh wawasan, lupa itu kemana. Ah seandainya itu tercatat dan tertulis. “Ilmu bagaikan hewan buruan dan tulisan ibarat tali pengikatnya”. Begitu Imam Syafii mengingatkan. Analogi yang pas sekali. Binatang buruan itu sudah terlanjur lepas kembali, persis kata beliau.

Urgensi. Alasan. Motif. Hal-hal semacam itu yang menjadi batu loncatan pertama untuk melakukan sesuatu. Tanpa bisa menginternalisasi dengan baik, satu dua hari semangat akan padam lagi. Fungsi tulisan juga mungkin dapat mengabadikan niat yang saat ini muncul agar ketika luntur dapat terilhami lagi.

Menulis untuk menasihati diri sendiri. Ditulis sekarang, lalu dibaca lagi nanti. Ingat-ingat saja tempat meletakkannya dimana. Di blog. Jika nanti laptop sendiri sedang tidak available dan catatan tidak mampu dibawa. Mudah-mudahan server WordPress panjang umur. Asal ada akses internet.

Besok menulis lagi. 

Advertisements

3 thoughts on “Ingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s