​Menghidupkan Lagi Minat Membaca

Belum lama ini saya gabung di salah satu komunitas yang menggeluti dunia bakti sosial. Namanya BIL “Baksos Isi Liburan”. Awal mulanya bergabung nanti saya cerita di artikel “Hakrab” yang nanti baru akan ditulis. Haha. Tidak sabar ingin segera menuliskan tapi selalu saja ada alasan untuk menunda. Such a problematic mind, huh.

Minggu pagi yang damai, bebas dari rutinitas pekerjaan dan yang lebih penting lagi adalah berada di rumah. Mengobrol bareng brother in crime soal berbagai rencana tentang masa depan yang absurd tapi menantang. Ditemani secangkir kopi instan yang baru dibeli rentetan tadi malam. Membuat lupa ada agenda yang menjadi misi weekend ini (22 Januari 2017), salah satu alasan kuat kenapa saya harus pulang ke Cirebon: agenda “BILiteration” bersama volunteer BIL. Meet up pukul 8 pagi sekitar 19 Km dari rumah. Dan sekarang pukul 7.30 lebih! Oh my. :O

Berpacu dengan waktu, mandi ala superhero Flash. Memang berbahaya membiasakan deadline itu. Masalah bermunculan satu per satu, berderet seperti halangan di game android “running temple”. Wal hasil, saya sampai di lokasi 15 menit melebihi waktu yang ditentukan. Sebenarnya tidak masalah karena acara memang baru akan mulai pukul 9. Tapi ya, hati ini merasa bersalah. Halah.

Semua perlengkapan yang sudah volunteer BIL (kecuali saya) siapkan, diangkut dengan sepeda motor. Seluruh volunteer berkonvoi ria dari Jl. Cipto ke Jl. Pramuka, Kebon Pelok. Ada drama yang tidak perlu diceritakan yang menemani perjalanan (hanya spoiler). Karena itu, saya menjadi salah satu yang datang belakangan. Tujuan kami adalah panti Kandang Juang. Tempat yang pertama kali saya kunjungi setelah seperempat abad berlalu. Alhamdulillah.

BILiteration adalah acara yang bertujuan untuk memunculkan minat baca anak-anak. Mungkin karena dari usia dini lah segala kebiasaan baik maupun buruk akan terpatri. Dan kebiasaan itu pula yang akan membentuk pribadi luar biasa, biasa saja, atau (maaf) sampah. Niat kami untuk pilihan pertama. Anak-anak panti Kandang Juang yang saya dengar merupakan sekelompok yatim atau piatu. Mereka berusia anak SD dan SMP atau taksiran saya 7 sampai 14 tahun. Di panti dan sekaligus pondok pesantren itu mereka hidup dan diberi pembelajaran oleh para guru dan pembimbing. Ya, Kami ingin mengenalkan kembali kepada mereka BUKU, senjata peradaban. Mengenalkan kebiasaan membaca dan manfaatnya. Meskipun mungkin hanya sedikit, semoga memberi pengaruh.

Acara dimulai dengan dibuka oleh pemandu acara, Lysa Suharti namanya. Berprofesi sebagai seorang guru SD. Right woman in right place. Terbiasa mungkin julukan yang tepat. Tidak ada rasa canggung dalam membuka hingga menutup acara yang pesertanya adalah anak-anak. Pemilihan diksi, gestur, ekspresi, dan metode interaksi yang cocok diperagakan oleh Lysa. Mungkin hanya beberapa volunteer BIL saja yang memiliki untuk momen itu. Over all bagus. (ini kenapa saya jadi komentator? Ck).

Iqra’. Surat Al-Alaq. Menjadi pilihan bacaan tilawah pembuka. Dibaca secara lancar oleh salah seorang anak laki-laki berpeci. Bukan kebetulan tapi memang disengaja dalam memilih surah. Sebagai pengetuk hati orang beriman oleh firman Allah yang pertama. Bacalah. Disinilah letak esensi dari acara ini. 

Bergerak ke acara sambutan seorang ustadz pengelolah panti. Ucapan terima kasih dan harapan tentang impak acara ini yang saya ingat. “Semoga anak-anak menjadi suka membaca, dan menularkannya kepada yang lain”. Kurang lebih seperti itu. Adapun Ketua BIL menekankan terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yang perlu diubah. “Indonesia diurutan berapa tentang minat baca? ada yang tauuuu?”. Cari sendiri ya jawabannya. Sedih gan jawabnya.

Momen membaca bersama. Bercerita tentang apa yang dibaca. Pemberian apresiasi. adalah momen yang paling banyak saya foto, sebagai seorang yang bertugas mengabadikan momen. Bukan karena orang nya pada diam sehingga tidak direkam video sih, tapi momen itulah yang diharapkan menjadi potret di masa depan. Mereka membuka lembaran-lembaran buku yang berwarna. Ada satu buku yang dibaca sampai 3 anak. Ada yang hanya memilih buku komik. Ada juga yang membaca buku dengan banyak istilah sains dan biologi “Mencintai Bumi”. Apapun buku yang dibaca, mulailah membaca ya adik-adik.

Jika disurvey ke khalayak ramai, saya yakin semuanya atau sebagian besar akan setuju. Bahwa membaca adalah hal yang sangat penting. Slogan buku adalah jendela dunia sudah saya dengar sejak SD. Perpustakaan sudah dikenalkan sejak TK. Bisa jadi memang, pengenalan membaca buku sudah dilakukan oleh para pengajar kita dari kita kecil sehingga tertanam pada diri kita bahwa “membaca itu penting”. Tapi mungkin baru sebatas pengetahuan belum menjadi kebiasaan. Tapi pengetahuan itu seperti bensin atau bahan bakar. Kalau tidak ada pemantik maka tidak akan terbakar. Kampanye untuk mengajak orang membaca buku menjadi memiliki peluang untuk berhasil. Karena itu bisa menjadi pemantik bagi orang lain. Atau setidaknya bagi para pelaksananya. Jangan berhenti.

BILiteration menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Kembali membuat komitmen pribadi untuk lebih sering membaca dan juga menulis. Ada banyak masalah yang dapat ditemukan solusinya. Ada banyak ide menarik yang akan ditemui. Ada perasaan yang tersalurkan dengan membaca dan menulis. Ada banyak hal dan ada banyak lagi. Kalau kata eyang “bisa karena terbiasa. Terbiasa awalnya terpaksa”. Ya Allah, mudahkanlah hamba-Mu mengamalkan perintah-Mu yang pertama. IQRA’. Baca…

Terima kasih untuk sahabat dan keluarga BIL. Atas kesempatan yang berharga mengikuti kegiatan yang mulia. Semoga bisa ikut lagi meski sebagai penggembira. 😀
Purwakarta, 28 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s