Bahagia di Idul Adha

Hari raya Idul Adha pas saya masih kecil sering disebut sebagai “Raya Agung” sedangkan Idul Fitri disebut sebagai “Raya Kecil”. Selalu ngerasa aneh aja disebut begitu. Karena di Indonesia tampilan luar dari kedua hari raya itu serasa terbalik. Perayaan paling hebring bukannya justru pada saat Idul Fitri? Sedangkan Idul Adha akan terkesan lebih biasa aja. Mungkin itu cuma berlaku di Arab saja yang justru hectic karena musim haji. Ya sudah lah..

Idul Adha 1436H, ini pertama kalinya saya mengikuti kepanitiaan qurban di luar lingkungan rumah atau kampus tapi di RW 11 kecamatan Coblong-bandung. Biasa aja sih sebenernya, tapi cukup sesuatu kalau melihat saya yang ansos nan kikuk jika berinteraksi dengan orang yang belum di kenal dan beda usia yang sangat jauh (bapak-bapak sampe kakek-kakek).

Kegiatan dimulai dari setelah solat Ied setelah orang-orang ganti baju lapangan penyembelehan. Seperti pada agenda penyembelihan hewan pada umumnya, ada spot penyembelihan, spot pemotongan daging, dan spot perebusan jeroan. Semuanya dikerjakan oleh laki-laki, para kaum ibu-ibu sibuk menyiapkan logistik dan konsumsi buat para panitia. Detil cerita bisa dibayangkan masing-masing dan rasakan tahun depan untuk ikut kepanitiaan qurban di dekat tempat tinggal.

Banyak hal yang saya dapatkan selain sekantong campuran daging sapi dan daging kambing. Hal yang terpenting buat saya adalah bahwa saya sudah bisa membuka diri berinteraksi dengan masyarakat umum. Bisa saling mengenal meski di daerah asing. Bahkan mendapat petuah dari salah satu kakek yang memotong daging di sebelah saya “nah begitu dek, sebagai mahasiswa perlu berbaur dengan masyarakat”. Saya cuma bisa senyum-senyum aja mendengarnya. kayak gini >> 🙂

Sedikit curhat. Ini adalah ironi buat saya karena ini adalah kali kedua merayakan idul adha di kosan. Tahun lalu kalau gak salah memang cuma diem di rumah aja, lupa ngapain. Menjadi mahasiswa memang membuat kekikukan yang sangat yang saya rasakan untuk sekedar ngobrol dan berkenalan. Saya tahu ini cuma barrier yang saya ciptakan di kepala sendiri, tapi itu terjadi.

Mungkin solusi terbaik untuk mengikis rasa canggung adalah dengan mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang ada di sekitar kosan. Seperti pengajian pekanan, tujuh belasan, kerja bakti bulanan, atau jadi ta’mir masjid jadi tukang adzan.

Pengabdian masyarakat adalah kalimat yang sangat saya hafal sejak TPB. Tapi implementasi sederhanya sulit sekali dilakukan. Terbiasa berdiskusi dan berdebat masalah pelik di kampus gak cukup menolong untuk memulai obrolan cetek di pinggir jalan.

…. Bagaimana pun berbaur dengan masyarakat berbagai kalangan sangat diperlukan bagi kita yang bercita-cita mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

 

Advertisements

2 thoughts on “Bahagia di Idul Adha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s