Berjanji

​Pembacaan janji pada sebuah acara seremonial itu apakah benar-benar disebut dengan janji yang akan dimintai pertanggungjawabannya? Bahkan jumlahnya pun saya sudah lupa, berapa kali janji pernah saya ikrarkan, apalagi yang dijanjikan.

Ada banyak sekali momen yang mengharuskan diucapkannya janji. Misalnya saja saat prosesi wisuda, saat menjabat sebagai pengurus disebuah organisasi, saat upacara sekolah, dan sebagainya. Biasanya diikrarkan secara lantang dan semangat oleh peserta prosesi. Janji setia untuk melaksanakan poin-poin yang disebutkan. Biasanya berisi hal-hal baik. Ada yang bersifat umum, adapula yang spesifik. 

Janji yang bersifat umum biasanya yang menyangkut sebagai warga negara, umat beragama, dan manusia. Agar bersikap dan bertindak sesuai norma, syariat, dan aturan yang berlaku. Sedangkan yang spesifik menyangkut dengan jabatan atau title yang disematkan pada pemegang janji. 

Tidak tahu lah harus diapakan itu semua. 

Semua gara-gara sebuah foto yang menampilkan janji wisudawan saat prosesi wisuda dulu. Menukil ingatan dulu pernah janji demikian. Ekspresi yang dipasang kurang lebih seperti ini

 -_-

Pagi yang Biasa-biasa Saja

Matahari mulai menyingsing. Keramaian pasar, kerumunan pedagang dan pembeli memenuhi latar halaman yang dijadikan pasar pagi. Riuh dan riang tawar menawar juga obrolan ibu-ibu komplek bersahutan terdengar dari balik jendela. Odong-odong mulai bernyanyi, anak-anak bekumpul mengantri, naik-turun di atas punggung kuda plastik seirama kayuhan pedal beriring tembang anak era 90an yang ada improvisasi pada lirik dan aransemen musiknya. 

Anak-anak yang tidak terlihat sudah mandi itu bergembira. Naik kereta api tut..tut..tuut.

Ada yang sibuk. Tukang parkir yang lihai menata barisan motor yang datang dan pergi. Kios kelontong dan sayur yang selalu ramai, juga kios baju-bajuan yang selalu sepi. Peminta-minta yang tertatih menghampiri para pedagang dan pengunjung pasar, penuh iba. 

Aku bersiap dan bergegas. Sudah telat untuk jadwal bus jemputan. Tak ada pilihan selain memilih kuda baja kesayangan untuk dipacu. 

Kubuka pagar, suara rel meronta beradu dengan roda pagar yang kurang pelumas itu. Terlihat hamparan lapak sandal milik tetangga memenuhi separuh lebar jalan masuk yang terpelur. Menyisakan setengahnya lagi untukku agar motor tetap bisa lewat tanpa hambatan. Biar saja aku izinkan lapak itu berkuasa didepan pagar rumah karena penghuninya akan pergi hingga 10 jam berikutnya. 

Kutinggalkan keramaian. Tak lupa senyum kuberikan pada tetangga yang bersedia menutupkan gerbang. Agar kesan pagi ini menyenangkan. 

25 menit perjalanan. 20 kilometer estimasi jarak. Jalanan dipenuhi manusia urban yang juga bergegas. Sepanjang jalan masih terlihat seragam biru khas karyawan menanti bus jemputan. Saling membisu, walau ada yang bertegur sapa. 

Kuparkirkan motor bersama ratusan unit lainnya. Kulewati pintu masuk berputar yang bersyarat kartu ID karyawan menuju menuju mesin pencatat kehadiran berbukti sidik jari. Belum genap pukul 8 pagi, tepat waktu. 

Aku duduk. Kunyalakan komputer. Rasanya tidak menyenangkan. Aku lupa belum sarapan. 

Sebuah Perjuangan 

​Tulisan ini di dedikasikan untuk saya sendiri. Kenapa dituliskan? supaya ada bahan saja buat menulis pekan ini. semoga ada manfaatnya juga bagi yang membaca

Kalau ada perjuangan yang begitu susah payah saat ini, bagi saya adalah perjuangan untuk konsisten tepat waktu dalam memenuhi kewajiban, janji, maupun hal-hal lainnya sesederhana apapun yang membutuhkan ketepatan waktu. Jika rentang kewajiban adalah hitungan jam, maka keterlambatan dalam menit. Kalau hitungan hari, akan berlebih dalam jam. Jika pekan, akan hitungan hari keterlambatan itu muncul. Makin lama rentangnya, tingkat keterlambatan itu semakin besar juga. (mungkin itu juga yang bikin sekarang masih.. ah sudahlah)

Bermunculanlah ranting-ranting yang menyandung ketika hendak menghadiri pertemuan yang sudah ditentukan waktunya. Akan hadir random trouble saat deadline menjelang. Kaidah ini mungkin bekerja: Jika kamu belum lulus ujian, maka ujian itu akan kamu ulangi sampai lulus. Ujian-ujian itu berupa urusan yang muncul menjelang tenggat, yang sebenarnya bisa dilakukan jauh sebelumnya. Kalau gagal dan terlambat, berikutnya akan diuji dengan hal yang serupa. Lalu setelah dievaluasi sudah berapa kewajiban yang tercatat tepat waktu, prosentasenya sangat lah kecil. Kesal sendiri.

Bisakah hadir tepat waktu di kantor selama satu tahun tanpa terlambat satu hari pun? Bisakah menghadiri janji setiap saat tanpa ngaret barang semenit? Bisakan mengumpulkan tugas sebelum masa berlakunya habis? Itu masih misteri alam.

Sebenarnya bukan tidak sadar, saya menyadarinya sejak laamaa. Bahwa ketepatan waktu ternyata juga merupakan kebiasaan. Buah dari tidak abai memenej waktu untuk hal sekecil apapun dan menyegerakan penyelesaian kewajiban secara terus menerus. Berapapun lama rentang waktu yang diberikan, misalkan pertemuan untuk pekan depan, deadline untuk bulan depan, dsb, akan selalu berakhir terlambat. Karena memang kebiasannya adalah terlambat. Begitu pula sebaliknya.

Seperti bola salju yang menuruni bukit, semakin besar dan tidak terbendung. Kalau kebiasaan datang terlambat ke kantor terus terjadi, efek tidak langsungnya mungkin keterlambatan proyek berharga milyaran. Dan terlambatnya negara ini maju, mungkin juga berefek dari keterlambatan-keterlambatan kecil dari warganya dalam memenuhi kewajiban. Jika ingin melihat Indonesia, lihatlah diri sendiri. Begitu kata dosen saya.

Besok hari Senin, awal pekan untuk kembali produktif dalam bekerja. Setelah 2 hari sebelumnya libur. Godaan bermunculan setelah bangun dari tidur.

Ya Allah, hamba pengen tepat waktu sedari solat subuh *_*

Saat untuk Memulai 


Saya sering kali merasakan. Sudah terhenti sebelum memulai sebuah pekerjaan. Alasannya selalu sama, fasilitas yang saya miliki belum cukup. Kemudian muncul lah pembenaran untuk menundanya di lain waktu jika sudah lengkap.

Kalau diingat-ingat, saya pernah menyusun beberapa business plan dan berakhir mangkrak tidak tereksekusi. Di suatu proyek yang lain juga demikian. Gara-gara terskip satu-dua komponen elektronik tidak terbeli, saya tunda sampai semua lengkap. Barulah dikerjakan.

Ada begitu banyak alasan-alasan kecil yang dijadikan pembenaran untuk tidak menyegerakan dalam memulai. Padahal jika satu hal belum dapat dikerjakan karena suatu kendala, tidak menutup kemungkinan hal lain dapat dikerjakan lebih dahulu. Sehingga ada progress dari apa yang sedang digarap. Dari pada harus menunggu semuanya siap. 

Kalau dilihat lebih seksama, pekerjaan besar sebenarnya memang hanya sekumpulan pekerjaan-pekerjaan kecil yang available untuk segera dieksekusi. Sebagian memang harus dikerjakan secara sekuensial atau berurutan: ini belum bisa sebelum itu. Tapi ada juga yang tidak berkaitan, atau dapat dilakukan secara paralel. Tidak bergantung dari pekerjaan lain. 

Meski sudah tahu pun, masih ada banyaak sekali pekerjaan yang tertunda. Pengetahuan itu syarat perlu, bukan syarat cukup. Menjadi tahu dan sadar hanya satu bagian saja. Ada faktor-faktor lainnya. Yang jika dibahas hanya akan menambah pembenaran untuk terus menunda. 

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Makanan Lebaran

Kenapa ya, makanan cuma berkumpul di satu waktu? Pas lebaran aja. Jadi lebar, pasti banyak yang tersisa dan bakal di buang. Kemudian di hari-hari selanjutnya bakal sepi. Mungkin pas lebaran rombongan makanan ikut mudik,lalu kembali balik pasca lebaran. Yah namanya juga tradisi. Sudah ada dari dulu duluu sekali. 

Kebahagiaan oleh para orang tua adalah makan. Para orang tua itu berletih lelah mencari nafkah ujungnya adalah agar anak-anaknya bisa makan. Orang tua saya termasuk yang demikian. Kalau saya pulang, pertanyaan pertama yang sering muncul adalah “sudah makan belum?”. Intinya simbol rasa bahagia adalah makanan. Saya rasa begitu. 

Adapun lebaran adalah momen kebahagiaan. Jadi pasti jadi momen banyak makanan. Tiap rumah akan berusaha menyajikan yang terbaik yang bisa diberikan. Makanan yang susah dibuat pun diupayakan. Bagi yang bekerja di instansi, sering kali akan mendapatkan parcel pula. 

Makanan-makanan itu kemudian disajikan di meja tamu. Disiapkan untuk menyambut tamu yang datang untuk bersalam-salaman. Basa-basi agar berkenan mampir akan selalu terlontarkan tuan rumah. Agar mencicipi makanan yang ada. 

Tetapi, 

Sayang sekali. Sangat sedikit yang mampir dan lebih senang untuk berkeliling. Kalaupun mampir, akan malu-malu untuk mengambil makanan yang ada. Entah karena memang segan, atau tidak doyan. Padahal sudah the best.

Endingnya adalah makanan harus habis oleh tuan rumah sendiri. Sedih.

Bersambung….

Broken Windows 


Broken Windows atau jendela pecah merupakan salah satu teori dalam kriminologi yang menjelaskan mengapa kriminalitas menjadi epidemi dalam suatu kawasan. Pertama kali dicetuskan oleh 2 kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling untuk mengurai tingginya angka kriminalitas di kota New York pada tahun 1980-an.

Teori tersebut berpendapat bahwa kriminalitas merupakan dampak yang tak terelakkan dari sebuah ketidakteraturan. Jika terdapat jendela yang pecah pada suatu rumah sedangkan pemiliknya tidak segera memperbaikinya, orang-orang yang lewat akan menyangka bahwa rumah tersebut dibiarkan oleh pemiliknya. Sehingga akan timbul kerusakan-kerusakan berikutnya yang disebabkan oleh orang-orang yang menganggapnya demikian.

Pernah saya baca dalam suatu artikel yang saat ini lupa itu dimana. Ada sebuah social experiment dengan menggunakan 2 buah mobil yang sama namun diletakkan di pinggir jalan di dua kota yang berbeda. Salah satu dijaga agar tetap bersih dan utuh sedangkan yang satu lagi sengaja di lepas beberapa bagiannya, seperti plat nomor, kap mobil, dan disertai pukulan pada body mobil sehingga penyok. Pengamatan dilakukan dalam kurun waktu tertentu dan menghasilkan suatu pemandangan yang berbeda. Mobil pertama tetap utuh seperti pertama kali di parkirkan sedangkan mobil ke dua hancur akibat ulah orang-orang yang lewat. Mesinnya ada yang di curi, seluruh kaca pecah dan kerusakan parah pada body mobil. 

Hasil eksperiment tersebut menguatkan pendapat dari teori broken window. Tentang ketidakteraturan yang menimbulkan konteks bagi masyarakat untuk melakukan ketidakteraturan yang lebih besar. 

Pada tahun 1980-an, New York city mengenyam sejarah kelam dimana 2000 kasus pembunuhan dan 600.000 kasus kekerasan tercatat di dalam dokumen kepolisian setiap tahunnya. Namun, angka tersebut turun secara dramatis hingga lebih dari separuhnya di tahun 1990-an. 

Strategi kepolisian dan pengelola public sector konon menangkal wabah kriminalitas itu dengan mengacu pada teori ini. Alih-alih memfokuskan pada kasus-kasus besar seperti pembunuhan, pengedaran obat bius, atau pemerkosaan, mereka lebih memilih untuk memfokuskan ketidakteraturan yang kecil-kecil namun dianggap menjadi biang segalanya. 

Mereka memfokuskan pada memerangi tindakan vandalisme berupa coretan gravity pada dinding lorong dan gerbong kereta api bawah tanah. Dengan cara menjadikannya selalu bersih dari coretan. Hal ini terus dilakukan dalam kurun 6 tahun. 

Ada lagi penindakan pada kenakalan remaja yang tidak membayar tiket kereta yang seharga 1.2$. Yang selama ini dianggap hal remeh dan tidak pernah ditindak. Wal hasil, setelah ditelusuri dari penangkapan pelaku “tidak bayar tiket” ini ternyata kepolisian menangkapi para pelaku kejahatan yang besar : pelaku pembunuhan, pengedar narkoba, dll. 

Sejak saat itu kepolisian dan pemerintah setempat terus mengerahkan tenaga pada hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa. Secara tegas menindak kasus-kasus pembuangan sampah sembarangan, kencing sembarangan, corat-coret fasilitas umum, dan hal-hal indisipliner lainnya. 

*

Jika kita bandingkan antara mall dan pasar tradisional kita akan mendapatkan gambaran kondisi yang mirip. Tingkat kebersihan yang begitu berbeda. Kita enggan membuang sampah sembarangan di kios-kios karena lingkungan yang bersih dan akan tampak bodoh jika melakukannya. Serta jelas akan mendapat teguran. Kalau di pasar tradisional, pesannya akan sama “buanglah sampah pada tempatnya”. Tapi pembenaran kita akan berkata “dimana-mana adalah tempat sampah” 

Wallahu a’lam. . 

Sekelumit pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kita perlu lebih perhatian terhadap ketidakteraturan yang ada di sekitar kita. Atau bahkan yang kita lakukan sendiri. Lalu bersegera untuk menanganinya. 

Mungkin solusi banjir bukan pada investasi triliunan penambahan kanal tapi penindakan pada pembuangan sampah sembarangan. Dan pengalokasian dana utk peningkatan layanan kebersihan dan tata kota.

Mungkin juga pengentasan wabah korupsi harus dimulai dari penindakan secara tegas hal-hal yang mungkin sudah lumrah, mencontek saat ujian. 

Sepertinya memang begitu, ada keretakan kecil yang dibiarkan pada sebidang kaca yang kuat. Yang membuatnya dapat pecah meski cuma dengan tekanan jarum kecil. 

*

Sumber : Tipping Point, Malcolm Gladwell 

Berkawan

​Mungkin sebagian dari pembaca merasakan juga. Menjadi orang yang selalu berganti-ganti lingkungan sosialnya. Pindah sekolah karena naik jenjang, Pindah lokasi kerja, Pindah rumah, merantau kesana-kemari. Efek positif dari hal itu adalah bertambahnya daftar orang yang kita kenal, sebagian ada yang menjadi teman, sebagian dari itu ada yang menjadi sahabat. Hal negatifnya adalah kita jadi jauh dengan teman-teman yang terlebih dahulu kita kenal di lingkungan sosial kita sebelumnya. 

Itulah mungkin ada pendapat yang mengatakan bahwa ada begitu banyak orang yang berlalu lalang dalam hidup kita dan hanya sedikit sekali yang menetap. Kalau dikorelasikan dengan hukum relativitas, sebernarnya karena kita saja yang berlalu-lalang sehingga yang lain terkesan yang datang dan pergi. Meski demikian, yang sejati akan tetap tidak hilang dimakan jarak dan ditelan masa. #Halah

Teman tetaplah teman (bukan bahas friendzone). Fakta itu tidak berubah, tentang kita memiliki hubungan dengan orang-orang yang bisa jadi saat ini telah sangat lama tidak kita temui. Hanya mungkin perasaan kita yang memudar. Tidak sehangat dulu. Bahkan canggung kala bertemu kembali dengan kondisi saling pangling.

Ramadhan hari ke 17. Tidak lebih dari dua pekan Idul Fitri 1438 akan tiba. Momen itu jangan sampai agak tersiakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Harus jadi alasan untuk menyempatkan diri bertemu sebanyak mungkin keluarga dan teman dimasa-masa liburan. Menyambung silaturahim begitu istilahnya. Hal yang sangat dicintai Allah dan Rosulnya. Sampai dijanjikan akan diperbanyak rizkinya dan diperpanjang umurnya.