Permulaan

Menjadi manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, kata nabi Muhammad saw, merupakan kriteria manusia terbaik. Kalimat yang mengilhami begitu banyak orang untuk bergerak dan berbuat untuk sekitar mereka. Kalimat yang mengubah orientasi berpikir yang berfokus hanya pada diri sendiri kepada apa yang ditangkap panca indra tentang orang lain dan lingkungannya. Terinspirasi dari banyak orang, saya pun jadi tidak mau tertinggal untuk berdedikasi memberikan banyak manfaat kepada orang lain.

Allah bertindak sesuai dengan prasangka hambaNya. Alhamdulillah dengan berbagai cerita yang melatarbelakanginya, saya dipertemukan dengan sebuah komunitas yang memiliki semangat yang sama, Baksos Isi Liburan (BIL). Singkatnya saya diperkenankan gabung komunitas ini per 1 Januari 2017.

Genap satu tahun berselang. Di penghujung Desember 2017, satu lagi amanah menyambar. Malam tahun baru 2018 menjadi agak khusuk dengan pikiran apa yang harus saya lakukan sebagai ketua BIL yang baru.

Tentang kegelisahan dan mimpi bersama

2018 menjadi tahun baru bukan hanya sebagai perhitungan waktu, tapi juga periode organisasi ini. Fase ini akan menjadi transisi dari melakukan berbagai macam kebaikan menjadi memusatkan perhatian pada segelintir persoalan. Telah menjadi kesepahaman dan kesepakatan bersama bahwa penyelesaian masalah yang begitu banyak berserakan tidak dengan menghampiri seluruhnya, tapi satu per satu dan tahap demi tahap. Memastikan satu masalah selesai telah cukup menjadi pembeda dengan orang-orang yang mendiamkan masalah tanpa kontribusi apalagi yang memperburuk keadaan.

Hari itu, 21 Januari 2018, kami berkumpul kembali setelah sekitar 3 pekan berselang. Membawa cerita lingkungan tempat tinggal yang ada didalam benak masing-masing untuk diceritakan. Lalu saling mendengarkan dan berdiskusi tentang banyak hal dan berujung pada kesimpulan persoalan apa yang akan terlebih dahulu kita sentuh. Dari yang terdekat, dari yang termudah, dan dari sekarang juga.

Menggebu

Permulaan baru membuat darah muda (istilah Rhoma Irama) bergejolak, terpacu untuk segera bertindak. Dengan perasaan menggebu, pikiran harus tetap dingin. Alon asal kelakon jadi jargonnya. Usia kini adalah masa menanjaknya produktivitas kerja. Tak ayal menjadi begitu banyak aktivitas yang tanpa sadari telah berani diambil sebagai tanggung jawab selain tuntutan hidup untuk menghidupi. Adapun waktu yang dimiliki, tidak bertambah.

Ya. Kesadaran akan banyaknya kewajiban melebihi waktu yang tersedia, harus mengantarkan darah mudah ini untuk bersiap mengatur dan mengalokasikan waktu untuk hal-hal yang penting dan lebih penting. Memenejnya sedemikian rupa tanpa perlu ada yang terbengkalai dan terdzholimi. Lalu berlindung dan memohon kepada Allah dari sifat lemah dan malas.

Pengingat diri

Mendapat amanah baru bukan berarti yang dahulu pernah diterima menjadi gugur. Akan tetap menuntut penyelesaian dan pertangungjawaban. Tidak membedakan yang kecil maupun besar. Tapi tidak perlu takut, akan selalu ada kawan perjuangan sehingga tidak perlu merasa sendiri. Asal jangan sampai membuat mereka kecewa sehingga berpaling kecuali karena kehendaknya sendiri.

Menceritakan rencana tidak akan seseru menceritakan kisah perjuangan. Platform pembangunan bangsa akan segera basi, tapi sejarah perjuangan pahlawannya akan abadi. Rencana menjadi mula, eksekusi menjadi penentu kualitasnya. Kembali mengazamkan diri lagi bagi jiwa yang sering kali lemah.

Bismillah..

Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’!

(QS. At-Taubah: 1-9)

Advertisements

Hiatusnya Blog Pemula

Pertama kali mengenal kata “hiatus” adalah saat membaca manga Bakuman yang menceritakan kehidupan dan perjuangan mangaka di Jepang. Hiatus merupakan jeda dari sebuah karya karena berbagai faktor yang mempengaruhi sang kreator. Bisa juga dianggap break atau vakum dari periode terbit yang biasanya. Bagi para pengikut film atau manga serial pasti pernah menjumpai karya tersebut mengalami jeda tidak kunjung terbit kemudian muncul lagi setelah beberapa waktu.

Sepertinya hal tersebut terjadi pada blog ini. haha

Kira-kira lebih dari satu bulan yang lalu dari terakhir kali saya mengupdate tulisan. Setelah sebelumnya berhasil memaksa diri agar konsisten setidaknya satu postingan tiap pekan. Alhamdulillah dapat terealisasi hingga akhirnya terhenti satu bulan yang lalu. Hal yang sederhana seperti membuat tulisan lepas ternyata memiliki kendala dan tantangannya tersendiri.

Sebenarnya bukan tidak membuat tulisan sama sekali. Saya tetap membuatnya setiap pekan (paling tidak judulnya). Dengan berbagai alasan, semuanya berakhir di kumpulan draft atau trash. Selama itu, aktifitas menulis blog ini saya larikan ke mambaca buku secara rutin. Berharap kekosongan di kepala ini dapat terisi walau sedikit.

Penghalang utama yang dirasakan sebenarnya berasal dari prasangka sendiri. Penilaian yang terlalu berlebihan terhadap tulisan sendiri menjadikan setiap yang tertulis terlihat jelek dan memalukan kalau sampai terbaca orang lain. Terlalu melow, terlalu ribet, terlalu garing, dan sebagainya. Menyebabkan gagasan yang dirasa cukup oke kandas di tengah jalan sebelum mampu tuntas tertulis. Klasik.

Mungkin memang begitu ya salah satu penyakit pemula. Terlalu berhayal dapat membuat suatu karya yang bagus sampai-sampai tidak jadi apa-apa. Padahal segalanya membutuhkan proses yang tidak sebentar untuk menghasilkan produk yang memuaskan diri sendiri maupun konsumennya, dalam hal ini tulisan dan pembacanya.

Konsistensi adalah kunci. Begitu menurut para ahli. Terus menerus memberikan progress lebih baik dari kesempurnaan rencana yang tak berwujud. Saya rasa menulis pun demikian. Kepuasan dari menulis sebenarnya didedikasikan untuk diri sendiri, selebihnya hanya bonus saja. Dan untuk itu, sudah seharusnya terus menerus diasah tanpa terlebih dahulu mengkhawatirkan kualitasnya. Nanti juga bagus sendiri.

Well, tulisan ini hanya pemecah bekunya blog ini. Pengusir debu dan sarang laba-laba yang berhinggapan di segala sudut. Untuk kembali memulai lagi dan memotivasi agar tidak henti melakukan satu hal ini. Karena banyak orang mengatakan bahwa ada banyak manfaat besar dari menulis. Penasaran dan ingin membuktikan hal itu.

Hiatus bukan berarti berhenti selamanya. Ia ada dan terjadi untuk memberikan ruang beristirahat sejenak sambil melihat kembali apa yang sudah terjadi dan menatap apa yang sebaiknya dilakukan di masa yang akan datang. Syaratnya hanya satu, jangan berhenti.

Sebagus apapun karyanya, tetap ada yang tidak menyukai. Sejelek apapun karyanya, ada saja yang suka. Jadi, jangan berhenti berkarya.

~anonim

Satu Tahun Pertama

Satu tahun adalah basis perhitungan periode waktu yang maksimal. Adapun yang di atas itu, seperti windu atau dekade, menurut saya hanyalah harmoniknya saja (mengambil istilah matkul Sinyal dan Sistem). Dalam satu tahun, perhitungan musim akan berulang dan hal-hal lain yang lebih “manusiawi” seperti hari peringatan akan berulang. Satu tahun adalah periode yang pas untuk melakukan evaluasi atas semua kejadian yang kita hadapi karena segala fenomena alam dan fenomena sosial genap kita jumpai.

Agustus 2017 menjadi periode pertama saya belajar di dunia kerja setelah (dianggap) lulus dari kuliah. Rasanya ini menjadi istimewa. Fase ini untuk kebanyakan orang juga merupakan transisi menjadi mandiri seutuhnya. Ketika tanggung jawab atas kehidupan pribadi diambil alih sepenuhnya dari kedua orang tua. Satu tahun yang akan mengawali cerita sebagai manusia dewasa yang memiliki keinginan berkarya dengan tangannya. Tanpa ada dosen/guru yang menuntun agar melakukan ini dan itu.

Pengalaman menggantikan posisi dosen/guru sebagai pembimbing. Kesulitan dan kendala yang akan mengasah penguasaan skill penyelesaian masalah. Kecanggungan akan memicu sikap berani sebagai sesama manusia profesional yang sama-sama sedang bekerja.

Bekerja untuk belajar. Adalah frase yang selalu diulang saat segala sesuatu menjadi suram. Berharap agar selalu teringat untuk melaksanakan yang terbaik supaya mendapatkan pelajaran yang terbaik pula. Untuk mengeksploitasi sebanyak mungkin pengetahuan dan skill dari pekerjaan yang sekarang. Jika hanya setengah-setengah dan nanggung, berarti tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali hanya lelah dan menjadi tua.

Saya pun menginginkan, usia kerja saya nantinya merupakan akumulasi pengalaman dan pembelajaran yang sangat banyak. Dari waktu ke waktu merupakan pendalaman pengetahuan teknikal dan analysis, sekaligus peluasan wawasan dunia bisnis dan industri. Bukan sekedar kemonotonan rutinitas dari hari ke hari, selalu sama dari tahun ke tahun.

Satu tahun pertama ini harus menjadi kunci untuk tahun kedua yang lebih baik. Tulisan ini harus jadi pengingat yang abadi. 🙂

 

Berjanji

​Pembacaan janji pada sebuah acara seremonial itu apakah benar-benar disebut dengan janji yang akan dimintai pertanggungjawabannya? Bahkan jumlahnya pun saya sudah lupa, berapa kali janji pernah saya ikrarkan, apalagi yang dijanjikan.

Ada banyak sekali momen yang mengharuskan diucapkannya janji. Misalnya saja saat prosesi wisuda, saat menjabat sebagai pengurus disebuah organisasi, saat upacara sekolah, dan sebagainya. Biasanya diikrarkan secara lantang dan semangat oleh peserta prosesi. Janji setia untuk melaksanakan poin-poin yang disebutkan. Biasanya berisi hal-hal baik. Ada yang bersifat umum, adapula yang spesifik. 

Janji yang bersifat umum biasanya yang menyangkut sebagai warga negara, umat beragama, dan manusia. Agar bersikap dan bertindak sesuai norma, syariat, dan aturan yang berlaku. Sedangkan yang spesifik menyangkut dengan jabatan atau title yang disematkan pada pemegang janji. 

Tidak tahu lah harus diapakan itu semua. 

Semua gara-gara sebuah foto yang menampilkan janji wisudawan saat prosesi wisuda dulu. Menukil ingatan dulu pernah janji demikian. Ekspresi yang dipasang kurang lebih seperti ini

 -_-

Pagi yang Biasa-biasa Saja

Matahari mulai menyingsing. Keramaian pasar, kerumunan pedagang dan pembeli memenuhi latar halaman yang dijadikan pasar pagi. Riuh dan riang tawar menawar juga obrolan ibu-ibu komplek bersahutan terdengar dari balik jendela. Odong-odong mulai bernyanyi, anak-anak bekumpul mengantri, naik-turun di atas punggung kuda plastik seirama kayuhan pedal beriring tembang anak era 90an yang ada improvisasi pada lirik dan aransemen musiknya. 

Anak-anak yang tidak terlihat sudah mandi itu bergembira. Naik kereta api tut..tut..tuut.

Ada yang sibuk. Tukang parkir yang lihai menata barisan motor yang datang dan pergi. Kios kelontong dan sayur yang selalu ramai, juga kios baju-bajuan yang selalu sepi. Peminta-minta yang tertatih menghampiri para pedagang dan pengunjung pasar, penuh iba. 

Aku bersiap dan bergegas. Sudah telat untuk jadwal bus jemputan. Tak ada pilihan selain memilih kuda baja kesayangan untuk dipacu. 

Kubuka pagar, suara rel meronta beradu dengan roda pagar yang kurang pelumas itu. Terlihat hamparan lapak sandal milik tetangga memenuhi separuh lebar jalan masuk yang terpelur. Menyisakan setengahnya lagi untukku agar motor tetap bisa lewat tanpa hambatan. Biar saja aku izinkan lapak itu berkuasa didepan pagar rumah karena penghuninya akan pergi hingga 10 jam berikutnya. 

Kutinggalkan keramaian. Tak lupa senyum kuberikan pada tetangga yang bersedia menutupkan gerbang. Agar kesan pagi ini menyenangkan. 

25 menit perjalanan. 20 kilometer estimasi jarak. Jalanan dipenuhi manusia urban yang juga bergegas. Sepanjang jalan masih terlihat seragam biru khas karyawan menanti bus jemputan. Saling membisu, walau ada yang bertegur sapa. 

Kuparkirkan motor bersama ratusan unit lainnya. Kulewati pintu masuk berputar yang bersyarat kartu ID karyawan menuju menuju mesin pencatat kehadiran berbukti sidik jari. Belum genap pukul 8 pagi, tepat waktu. 

Aku duduk. Kunyalakan komputer. Rasanya tidak menyenangkan. Aku lupa belum sarapan. 

Sebuah Perjuangan 

​Tulisan ini di dedikasikan untuk saya sendiri. Kenapa dituliskan? supaya ada bahan saja buat menulis pekan ini. semoga ada manfaatnya juga bagi yang membaca

Kalau ada perjuangan yang begitu susah payah saat ini, bagi saya adalah perjuangan untuk konsisten tepat waktu dalam memenuhi kewajiban, janji, maupun hal-hal lainnya sesederhana apapun yang membutuhkan ketepatan waktu. Jika rentang kewajiban adalah hitungan jam, maka keterlambatan dalam menit. Kalau hitungan hari, akan berlebih dalam jam. Jika pekan, akan hitungan hari keterlambatan itu muncul. Makin lama rentangnya, tingkat keterlambatan itu semakin besar juga. (mungkin itu juga yang bikin sekarang masih.. ah sudahlah)

Bermunculanlah ranting-ranting yang menyandung ketika hendak menghadiri pertemuan yang sudah ditentukan waktunya. Akan hadir random trouble saat deadline menjelang. Kaidah ini mungkin bekerja: Jika kamu belum lulus ujian, maka ujian itu akan kamu ulangi sampai lulus. Ujian-ujian itu berupa urusan yang muncul menjelang tenggat, yang sebenarnya bisa dilakukan jauh sebelumnya. Kalau gagal dan terlambat, berikutnya akan diuji dengan hal yang serupa. Lalu setelah dievaluasi sudah berapa kewajiban yang tercatat tepat waktu, prosentasenya sangat lah kecil. Kesal sendiri.

Bisakah hadir tepat waktu di kantor selama satu tahun tanpa terlambat satu hari pun? Bisakah menghadiri janji setiap saat tanpa ngaret barang semenit? Bisakan mengumpulkan tugas sebelum masa berlakunya habis? Itu masih misteri alam.

Sebenarnya bukan tidak sadar, saya menyadarinya sejak laamaa. Bahwa ketepatan waktu ternyata juga merupakan kebiasaan. Buah dari tidak abai memenej waktu untuk hal sekecil apapun dan menyegerakan penyelesaian kewajiban secara terus menerus. Berapapun lama rentang waktu yang diberikan, misalkan pertemuan untuk pekan depan, deadline untuk bulan depan, dsb, akan selalu berakhir terlambat. Karena memang kebiasannya adalah terlambat. Begitu pula sebaliknya.

Seperti bola salju yang menuruni bukit, semakin besar dan tidak terbendung. Kalau kebiasaan datang terlambat ke kantor terus terjadi, efek tidak langsungnya mungkin keterlambatan proyek berharga milyaran. Dan terlambatnya negara ini maju, mungkin juga berefek dari keterlambatan-keterlambatan kecil dari warganya dalam memenuhi kewajiban. Jika ingin melihat Indonesia, lihatlah diri sendiri. Begitu kata dosen saya.

Besok hari Senin, awal pekan untuk kembali produktif dalam bekerja. Setelah 2 hari sebelumnya libur. Godaan bermunculan setelah bangun dari tidur.

Ya Allah, hamba pengen tepat waktu sedari solat subuh *_*

Saat untuk Memulai 


Saya sering kali merasakan. Sudah terhenti sebelum memulai sebuah pekerjaan. Alasannya selalu sama, fasilitas yang saya miliki belum cukup. Kemudian muncul lah pembenaran untuk menundanya di lain waktu jika sudah lengkap.

Kalau diingat-ingat, saya pernah menyusun beberapa business plan dan berakhir mangkrak tidak tereksekusi. Di suatu proyek yang lain juga demikian. Gara-gara terskip satu-dua komponen elektronik tidak terbeli, saya tunda sampai semua lengkap. Barulah dikerjakan.

Ada begitu banyak alasan-alasan kecil yang dijadikan pembenaran untuk tidak menyegerakan dalam memulai. Padahal jika satu hal belum dapat dikerjakan karena suatu kendala, tidak menutup kemungkinan hal lain dapat dikerjakan lebih dahulu. Sehingga ada progress dari apa yang sedang digarap. Dari pada harus menunggu semuanya siap. 

Kalau dilihat lebih seksama, pekerjaan besar sebenarnya memang hanya sekumpulan pekerjaan-pekerjaan kecil yang available untuk segera dieksekusi. Sebagian memang harus dikerjakan secara sekuensial atau berurutan: ini belum bisa sebelum itu. Tapi ada juga yang tidak berkaitan, atau dapat dilakukan secara paralel. Tidak bergantung dari pekerjaan lain. 

Meski sudah tahu pun, masih ada banyaak sekali pekerjaan yang tertunda. Pengetahuan itu syarat perlu, bukan syarat cukup. Menjadi tahu dan sadar hanya satu bagian saja. Ada faktor-faktor lainnya. Yang jika dibahas hanya akan menambah pembenaran untuk terus menunda. 

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)